Rumah kost yang tepat berhadapan dengan masjid itu tampak suram, kumal tak terbantahkan............Semua cat di dinding yang berupa-rupa warna itu kotor, kotor seperti habis disiram air sungai yang bercampur lumpur. Tak perduli matahari ada 7 buah di langit, aku yakin bangunan itu akan tetap tampak suram.......di depan kamar-kamar itu sudah banyak yang hancur betonnya,mungkin karena sibuk memantulkan air hujan ke dinding-dinding yang seperti menghisap raga itu.
Pagi itu aku berjalan melewatinya, seringkali aku memang melemparkan pandangan masuk menyusuri 'lorong' bangunan itu saat melintasinya. Pemandangannya selalu sama kawan, tentang ke-putus asa-an, tidak pernah lebih baik. Ibu-ibu penghuni bangunan itu
Rumah kost yang tepat berhadapan dengan masjid itu tampak suram, kumal tak terbantahkan. Bangunan itu adalah bangunan 2 lantai, susunan kamarnya membentuk huruf U dengan jarak antar kamar yang berhadapan tidak lebih dari 3 meter,tanpa teras kawan. Jarak 3 meter itu masih pula ditingkahi sepeda dan motor - beberapa dilengkapi dengan keranjang di kedua sisinya - yang disandarkan sesukanya oleh si pemilik pada dinding kamar masing-masing.
Semua cat di dinding yang berupa-rupa warna itu kotor, kotor seperti habis disiram air sungai yang bercampur lumpur. Tak perduli matahari ada 7 buah di langit, aku yakin bangunan itu akan tetap tampak suram. Cahaya matahari hanya punya celah 1 meter untuk masuk ke tengah bangunan itu dan mengeringkan semua pakaian, kadang juga bahan makanan, yang dijemur di depan kamar para penghuninya dengan sembarangan pula. Kalau sedang hujan, makin lusuh lah situasinya. Tak ada talang air di tepi atapnya. Lantai di depan kamar-kamar itu sudah banyak yang hancur betonnya,mungkin karena sibuk memantulkan air hujan ke dinding-dinding yang seperti menghisap raga itu.
Pagi itu aku berjalan melewatinya, seringkali aku memang melemparkan pandangan masuk menyusuri 'lorong' bangunan itu saat melintasinya. Pemandangannya selalu sama kawan, tentang ke-putus asa-an, tidak pernah lebih baik. Ibu-ibu penghuni bangunan itu sering tampak duduk di depan pintu kamar mereka, tanpa melakukan apapun,tidak juga berbincang-bincang. Soal mengapa mereka sering melakukan ini aku juga tidak pasti,tapi dugaanku tentu soal ekonomi, saat bensin premium mengalami kenaikan dari Rp.4500/ltr menjadi Rp.6000/ltr beberapa waktu lalu kulihat makin banyak ibu-ibu yang duduk di depan pintu mereka, dan tentu saja pada intensitas yang makin tinggi juga. dan keadaan semakin ramai karena sepeda motor yang biasa dipakai para suami berdagang juga makin jarang meninggalkan bangunan itu. Tapi para suami tak pernah duduk di depan pintu, mungkin karena mereka juga ingin menunjukkan sikap optimis pada anggota keluarganya dengan tidak duduk termenung di depan pintu.
Tapi pagi itu situasinya agak berbeda, kali ini yang duduk di depan pintu kamar adalah seorang pemuda. Pemuda itu -seperti penyewa kamar yang lain di bangunan itu- berasal dari suatu daerah di Jawa Barat, di daerah asalnya seorang pemuda memang diharapkan jadi perantau dan mapan sebelum kembali dan menetap di kampung halamannya. Pemuda yang tetap tinggal akan dianggap banci, tidak lelaki, perempuan juga bukan. Ia duduk dengan posisi seperti yang biasa dilakukan ibu-ibu di depan kamar mereka masing-masing, duduk bersender pada kusen pintu dengan salah satu tangan memegang kepala, dan tangan itu bersender pula pada salah satu lutut, posisi khas orang yang sedang dipenuhi pikiran yang berat, mungkin memberat-beratkan hidup. Pemuda itu hanya memandangi pintu kamar di seberang, pintu itu terbuat dari triplek yang mulai tercabik-cabik di beberapa bagian, dan dihiasi dengan poster promosi oli sepeda motor. Pemuda itu menatap kosong ke poster tadi, mungkin dia merasa kasihan pada kaleng oli dalam poster karena sekarang sudah banyak dipalsukan. Di negeri ini memang banyak hal sudah dipalsukan, ikan pun dipalsukan, daging ayam cincang juga sudah disubtitusi kardus cincang oleh penjaja makanan.
Pagi itu ibu-ibu tidak tampak duduk di depan kamar, mungkin mereka memutuskan libur dulu dari aktifitas perlamunan karena pemerintah baru saja menurunkan harga bensin premium menjadi Rp.5000/ltr, sepeda motor mereka pun sudah beraksi lagi. Tempat itu tampak sedikit lega, namun tetap suram.
Demi melihat suasana bangunan itu agak berbeda, aku memperlambat langkahku. Di depan bangunan itu, anak-anak kecil penghuninya bermain-main. Sebagian dari mereka adalah anak perempuan. Entahlah, sepertinya kata bermain-main itu terlalu mengerikan untuk menggambarkan situasi yang kulihat pagi itu. Anak-anak tadi -yang kebanyakan belum memasuki usia sekolah- tampak terbagi menjadi 2 kubu, satu kubu berada di sisi utara, dan satu di sisi selatan,dan setiap anak memegang batu sebesar genggaman orang dewasa. Bukan urusan perang dan batu yang membuatku terkejut. Dari pelajaran sejarah yang kudapat sejak SD hingga SMP, serta antropologi saat SMA, kusimpulkan bahwa perang dan batu memang hal primitif yang bersembunyi dalam pikiran setiap anak manusia.
Aku menoleh pada pemuda tadi, aku berharap dia memperhatikan anak-anak ini, anak-anak tetangganya, bahkan mungkin salah satunya adalah adiknya, atau mungkin anaknya sendiri. Tapi dia tetap setia pada poster oli.
Kulihat dua anak memegang batu yang lebih besar daripada anak-anak yang lain, seperti kotak tisu, hanya saja yang ini mematikan. Aku belum mau mengambil jarak yang terlalu dekat dengan anak-anak itu, aku khawatir kalau-kalau pemuda tadi adalah salah satu orang tua dari para bajingan kecil di depanku, aku tidak ingin menyerang harga diri orang tua dengan ikut mengatur –yang mungkin- anaknya. Dua anak itu pastilah ketua masing-masing kubu. Aku mengambil jarak yang cukup untuk mengingatkan mereka agar membuang batu yang mereka pegang , tapi tidak satupun dari mereka mengacuhkan aku.
Ini pastilah situasi yang benar-benar gawat. Kawan, aku sering melerai kucing bertengkar di rumahku , dan para kucing itu -meskipun saat dalam situasi saling mengancam dengan geraman-geraman yang tidak jelas- tetap akan menggerakkan telinganya saat aku memanggil nama mereka, kucing-kucing itu memperhatikan. Tapi anak-anak manusia ini, mereka bahkan tidak melirik! dan telinga mereka tidak juga bergoyang.
Kukeraskan suaraku, berharap pemuda tadi mendengar dan mengambil alih pekerjaan melerai anak-anak sialan ini,
pemuda itu tidak bergerak. Daun telinganya juga tidak bergoyang.
Mana mungkin dia tidak mendengar, kecuali dia tuli. Tapi aku tahu dia tidak tuli dan buta karena sering melihatnya di sekitar daerah itu.
Layaknya pemimpin negara yang akan berperang, 2 anak yang memegang batu terbesar saling mengancam. Mungkin ini usaha menghindari perang paling maju yang mereka pahami, mereka belum mengerti ungkapan menyerah untuk menang, cukuplah ancaman dulu, yang takut akan pergi dan perang terhindarkan. Suasana makin genting, ancaman-ancaman berterbangan. "awas,kulempar kamu biar tau rasa!!!" kata Ketua Kubu Utara yang badannya lebih kecil dibanding teman sekubunya yang -meskipun badan mereka lebih besar- hanya berdiri di belakang Si Kecil, menanti perintah menyerang.
aku menoleh lagi pada pemuda stress tadi, masih tidak bergerak, kurasa dia mulai membatu.
Seorang ibu keluar dari kamar untuk memeriksa jemurannya, menoleh sebentar ke anak-anak yang sedang mengacungkan batunya masing-masing, lalu kembali masuk ke kamarnya seolah-olah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Maka pasti ibu itu tidak hanya sedang cuti dari rutinitas duduk di depan pintu, tapi juga cuti penuh sebagai orang tua, sebagai istri pun. Mungkin dia juga sedang tidak masak dan mencuci untuk anak dan suaminya pada hari itu, sepertinya memang begitu, tampak jemurannya hanya pakaian wanita saja.
"kamu itu yang curang, coba lempar kalau berani!" balas Ketua Kubu Selatan tak kalah gertak. Kuperhatikan tubuh anak yang satu ini penuh dengan goresan-goresan luka di tangan dan kakinya, mungkin karena dia sering melawan hal-hal yang dia anggap sebagai kecurangan dengan keras.
Setelah banyak ancaman dan ejekan mereka lontarkan, tampaknya Si Kecil Dari Utara mulai takut, bibirnya makin manyun, mentalnya mulai goyah. Tapi, secara tiba-tiba, dari sayap kanan kubu utara sebuah batu melesat mengenai kepala si rambut keriting dari selatan, prajurit kelas bawah kubu utara melempar prajurit kelas bawah dari selatan. Rupanya si penyerang masih menyimpan hormat pada Si Kecil pimpinannya dengan tidak langsung menyasar Si Gores-Gores pimpinan kubu selatan, mungkin lebih tepat bukan karena hormat, tapi karena dia takut pada Si Gores-Gores. Adapun Si Keriting yang terkena lemparan, mungkin berkaitan dengan dendam pertikaian sebelumnya, entahlah.
Si Keriting Tujuh Keliling langsung menangis. Sungguh, batu yang mengenai kepalanya itu bisa membuat kepalanya bocor, tapi dia cukup beruntung, meski tetap sial, kepalanya tidak berdarah.
Si Pemuda tidak menoleh, kali ini aku harap batu tadi mengenai kepalanya.
Melihat anggota kubunya tertembak, si gores-gores, yang sepertinya paham benar akan rules of engagement, tahu bahwa ini saatnya kubu mereka melawan. Ia langsung mengangkat batu besarnya di atas kepala, bersiap-siap melemparkannya ke Si Kecil. Aku langsung berlari mendekat untuk mencegahnya. Tapi terlambat, batu itu melesat…..tapi sudutnya sangat curam, dan jatuh hampir mengenai kaki si kecil. Ternyata batu itu masih terlalu berat juga untuk Si Gores-Gores. Selamatlah si kecil karena kesalahan Si Gores-Gores memilih batunya. Ukurannya memang mengintimidasi lawan, tapi tak mampu dijinakkan.
"DIN DIN" klakson mobil yang mau lewat membuyarkan ketegangan mereka. Gang yang menjadi area perang tadi lebarnya memang pas dengan ukuran mobil tersebut, akhirnya mereka bubar begitu saja.Aku juga terpaksa menyingkir, setelah mobil berlalu para setan-setan kecil itu sudah berhamburan ke dalam kamar mereka masing-masing. Si Pemuda tadi masih termenung.
Kuputuskan untuk pulang.
Setelah melihat siaran berita di TV selama 2 hari, aku cukup yakin ibu-ibu itu tidak akan sampai 3 hari absen dari depan pintu mereka.
Ternyata benar, hari ketiga mereka sudah duduk lagi di sana.
Ternyata kali ini minyak tanah dan gas yang langka bin mahal biang keroknya.
Si Pemuda sudah tidak tampak, mungkin dia sudah jadi lelaki di luar sana, mungkin juga jadi banci di kampung halamannya.